BLORA – Persoalan sampah di Kelurahan Mlangsen, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, perlahan berubah menjadi peluang ekonomi.
Lewat pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, Mlangsen berhasil meraih predikat Kelurahan Mandiri Sampah tingkat Madya dan masuk peringkat ke-9 se-Jawa Tengah.
Menariknya, capaian tersebut diraih tanpa mengandalkan TPS3R. Kunci keberhasilannya berada pada keterlibatan masyarakat dan inovasi pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blora, Bayu Himawan, mengatakan keberhasilan Mlangsen menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi.
“Baru mengajukan langsung masuk kategori Kelurahan Mandiri Pengelolaan Sampah tingkat Madya. Ini luar biasa untuk Kelurahan Mlangsen,” kata Bayu, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, gerakan tersebut berawal dari kegiatan sederhana berupa kerja bakti. Dari kegiatan itu kemudian muncul kesadaran untuk mengelola sampah agar memiliki nilai tambah.
“Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Ketika sampah dikelola, keuntungannya ada dua, yaitu keuntungan ekologis dan ekonomis,” ujarnya.
Secara ekologis, lingkungan menjadi lebih bersih, rapi, sehat dan asri. Sedangkan secara ekonomi, sampah yang dikelola dapat memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat.
Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah budidaya maggot BSF. Larva tersebut dimanfaatkan untuk membantu mengolah sampah organik yang memiliki kandungan air tinggi.
Bayu menyebut pengelolaan sampah menggunakan maggot dapat mengurangi volume dan berat sampah secara signifikan, bahkan dalam kondisi tertentu pengurangannya dapat mencapai sekitar 70 persen.
“Jangan memandang maggot sebelah mata. Maggot BSF bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan sampah, terutama sampah organik,” jelasnya.
Tak berhenti di sana, maggot memiliki nilai jual dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan karena kandungan proteinnya tinggi. Sementara sisa hasil budidayanya atau kasgot dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.
Menurut Bayu, kondisi tersebut menunjukkan bagaimana konsep ekonomi sirkular berjalan. Sampah organik diolah menjadi maggot, maggot menghasilkan nilai ekonomi, sedangkan kasgot dapat kembali dimanfaatkan untuk tanaman.
“Dari sampah dikelola, kasgot menjadi pupuk, tanaman menghasilkan makanan dan kemudian menghasilkan sampah organik lagi. Di situlah ekonomi sirkularnya,” katanya.
Dorong Semua Bergerak
Bayu berharap inovasi yang telah berjalan di Mlangsen tidak berhenti di satu titik. Ia mendorong agar pola pengelolaan sampah tersebut dapat ditiru RT lainnya.
“Kami berharap ekonomi sirkular ini tidak hanya ada di spot-spot tertentu. Kalau bisa semua RT menduplikasi,” tegasnya.
Sementara itu, Lurah Mlangsen Evi Kartikasari mengatakan penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah kelurahan dan masyarakat.
“Antara pemerintah dan masyarakat ada sinergi. Kami menginisiasi, kemudian masyarakat menyambut. Jadi memang dua-duanya berjalan bersama,” kata Evi.
Menurutnya, pendampingan DLH Kabupaten Blora juga menjadi bagian penting dalam perjalanan program tersebut, mulai dari ide, pelaksanaan hingga proses penilaian dan semua tidak luput peran dari babinsa dan babinkamtimas Kelurahan Mlangsen yang selalu mendampingi masyarakat berbudidaya maggot.
Ia berharap pengembangan pengelolaan sampah dapat dilakukan secara bertahap di seluruh RT di Kelurahan Mlangsen. (***)



0 Komentar