About Me

header ads

Kerajinan Akar Blora Tembus Pasar Internasional, Tagih Sentuhan Pemkab

Blora  — Produk kerajinan akar kayu asal Kabupaten Blora, Jawa Tengah, terus menancapkan kukunya di pasar internasional dengan menguasai 90 persen pangsa ekspor hingga triwulan akhir 2026. 

Kendati sukses menembus pasar Eropa hingga Amerika, para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) lokal mengaku masih tertatih-tatih menghadapi kendala teknologi produksi yang tertinggal serta minimnya dukungan dari pemerintah daerah setempat.

​Owner CV Wreksa Indonesia, RNgt Widyasintha Himayanti, mengungkapkan bahwa tingginya permintaan global belum sebanding dengan modernisasi alat produksi di Blora. Dari total volume produksi, pasar lokal hanya menyerap sebagian kecil.

​"Sekitar 90 persen produksi kita untuk ekspor, sisanya hanya sebagian kecil untuk pasar lokal," ujar Widyasintha, Kamis (29/10/2026).

​Senada dengan hal tersebut, Abdul Mujib Manajer Produksi CV Wreksa Indonesia menambahkan bahwa komoditas kerajinan akar asal Blora ini telah merambah negara-negara maju. 

Pasar Eropa didominasi oleh Belanda, sementara Amerika Utara diserap oleh Amerika Serikat dan Kanada. Selain itu, Australia dan Selandia Baru juga menjadi pasar utama di kawasan Pasifik..

​Terkait transaksi dagang internasional, pihak perusahaan menerapkan sistem pembayaran telegrafik (Telegraphic Transfer/TT) yang aman, melalui skema down payment (DP) dan pelunasan penuh sebelum kontainer diberangkatkan.

​Jepara Makin Lari, Blora Terganjal Alat Manual

​Di balik gemerlapnya capaian ekspor tersebut, iklim industri kerajinan akar di Blora masih dibayangi tantangan mendasar. Faktor cuaca ekstrem dan keterbatasan teknologi produksi yang masih serba manual menjadi batu sandungan utama bagi efisiensi manufaktur lokal.

​Salah satu kendala krusial terletak pada fasilitas pengeringan (oven bakar) yang belum dilengkapi sistem pengatur suhu otomatis (thermostat). Kondisi ini membuat proses pengeringan bahan baku akar sangat bergantung pada pengawasan manual yang menguras tenaga dan waktu.

​"Kalau ditinggal sebentar, suhu turun lagi, mati," keluhnya, menggambarkan tidak efisiennya alat produksi yang mereka gunakan saat ini.

​Keterbelakangan teknologi ini membuat daya saing pengrajin Blora kian tertekan. Meski Blora diakui sebagai produsen akar kayu dengan kualitas material terbaik, daya saing industrinya dinilai masih kalah jauh dibandingkan Kabupaten Jepara yang telah menerapkan mesin oven modern dengan suhu terkontrol secara presisi.

​Persaingan Harga dan Harapan Dukungan Pemkab

​Selain kendala internal produksi, persaingan harga yang ketat dengan eksportir dari luar daerah Blora turut memperberat posisi pelaku UKM lokal. 

Tanpa adanya efisiensi biaya produksi berbasis teknologi, pengrajin Blora kerap kalah bersaing dalam penetapan harga di tingkat pembeli ekspor.

​Melihat kondisi tersebut, para pelaku usaha mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora untuk tidak tinggal diam dan memberikan perhatian konkret bagi keberlangsungan UKM lokal.

​"Kita mohon kepada Pemkab Blora agar mensupport teman-teman UKM seperti kita. Meskipun bukan kita yang dapat, tapi saya berharap Pemkab Blora peduli kepada UKM Blora," pungkasnya. (Mz. Dhe)

Posting Komentar

0 Komentar