About Me

header ads

Perhutani Siap Tebang Puluhan Pohon Membahayakan di Jalan Raya Rembang–Blora

REMBANG, Mediaedukasinet.com – Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mantingan siap menebang puluhan pohon jati, mahoni, dan sonokeling yang berpotensi membahayakan para pengguna jalan di sepanjang jalur utama Rembang–Blora.

​Langkah antisipatif ini diambil guna mencegah kecelakaan lalu lintas, terlebih mengingat kondisi cuaca ekstrem yang kerap terjadi belakangan ini.

​Saat dikonfirmasi di ruang kerjanya pada Senin (19/10), Administratur (Adm) KPH Mantingan, Bagas Avianto, didampingi Humas Mantingan, Ismartoyo, menyampaikan bahwa pihaknya telah menginventarisasi pohon-pohon di kawasan hutan yang tergolong rawan tumbang.

​"Kami sudah mengusulkan dan menginventarisasi pohon-pohon di kawasan hutan yang membahayakan pengguna jalan untuk segera ditebang," ujar Bagas.

​Bagas menjelaskan, beberapa waktu lalu pihaknya bersama Perencana Hutan Wilayah (PHW) IV Rembang dan Muspika Kecamatan Bulu telah meninjau langsung lokasi kawasan hutan tersebut.

​"Ada sekitar 32 pohon yang perlu ditebang. Mengingat cuaca saat ini cukup ekstrem, keselamatan pengguna jalan harus kita utamakan," tegasnya.

​Meski demikian, proses penebangan tidak bisa dilakukan secara instan. Pohon-pohon yang telah ditandai harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Perencana Hutan Wilayah (PHW) IV Rembang yang berkantor di Jalan Pantura Jenderal Sudirman KM 1, depan SMPN 3 Rembang.

​Kondisi Keamanan Hutan dan Kemitraan LMDH

​Disinggung mengenai kondisi keamanan kawasan hutan di KPH Mantingan, Bagas menyebutkan situasinya sejauh ini relatif kondusif dan aman.

​"Saya baru menjabat sekitar satu bulan, jadi saat ini masih beradaptasi dengan adat istiadat serta mempelajari karakteristik lingkungan masyarakat di sekitar kawasan hutan Mantingan," tuturnya.

​Terkait keberadaan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Bagas menegaskan bahwa LMDH tetap menjadi mitra strategis Perhutani. Saat ini, skema bagi hasil (sharing) di KPH Mantingan sebagian besar bersumber dari sektor agroforestri tanaman jagung, ketela, dan tebu.

​"Selain agroforestri bersama masyarakat, kami juga mengelola tanaman tebu mandiri di beberapa petak kawasan hutan," tambahnya.

​Namun, ia tidak memungkiri ada beberapa LMDH yang saat ini sudah tidak lagi menjalin kerja sama dengan Perhutani karena lahannya telah masuk ke dalam kawasan Kawasan Hutan dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK).

​Sementara itu, Kepala Sub Seksi (KSS) Kemitraan Perhutani, Bambang, merinci data LMDH yang lahannya telah terverifikasi teknis (verteg) masuk dalam KHDPK:

​RPH Pamotan:

  • ​LMDH Peduli Wono (280,89 Ha)
  • ​LMDH Wana Sarimulyo (172,10 Ha)
  • ​LMDH Rimba Gembira (74,58 Ha)
  • ​RPH Jatigenuk BKPH Sudo:
  • ​LMDH Rekso Karso Sentosa (246,52 Ha)
  • ​LMDH Woko Sidodadi (40,47 Ha)
  • ​LMDH Jatimulyo (121,39 Ha)
  • ​LMDH Wono Rejo (82,63 Ha)
  • ​LMDH Rukun Lestari (155,71 Ha)
  • ​LMDH Jati Agung (125,64 Ha)

​"Untuk total LMDH yang terdaftar di KPH Mantingan saat ini berjumlah 63 lembaga," pungkas Bambang. (Sgt)

Posting Komentar

0 Komentar