About Me

header ads

PGRI Ikuti Konferensi ACT+1 ke-39 di Filipina, Angkat Isu Kesejahteraan Guru dan Peningkatan Mutu Pendidikan

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) kembali menunjukkan kiprahnya di tingkat internasional dengan mengirimkan 112 peserta pada Konferensi ASEAN Council of Teachers plus Korea (ACT+1) ke-39 yang berlangsung di Cebu City, Filipina, 19–21 September 2025. 

Delegasi besar ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, dan diikuti oleh pimpinan organisasi guru dari tingkat pusat hingga daerah.

Salah satu peserta, Ketua PGRI Kabupaten Blora, Yatni S.Pd., M.Pd.,saat di temui awak media usai kepulangannya menghadiri Konfetensi guru se Asean di Filipina  menyampaikan bahwa konferensi ini menjadi forum strategis bagi negara-negara ASEAN dan Korea Selatan untuk mempresentasikan kondisi pendidikan masing-masing. 

"Beberapa isu utama yang dibahas antara lain peningkatan mutu pendidikan secara menyeluruh dan kesejahteraan guru," ucapnya saat ditemui di Gedung PGRI Blora, Selasa (23/9/2029).

“Dua hal ini selalu menjadi perhatian utama. Bagaimana pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan, dan bagaimana martabat serta kesejahteraan guru bisa terus diperjuangkan,” ujar Yatni.

Selain itu, forum ACT+1 juga menjadi wadah berbagi pengalaman dan mencari solusi atas berbagai permasalahan pendidikan yang dihadapi tiap negara. 

Hasil pembahasan ini nantinya akan dibawa ke masing-masing pemangku kebijakan, termasuk kementerian pendidikan dan pihak terkait di tiap negara anggota.

Yatni menambahkan, salah satu topik penting yang mendapat perhatian besar adalah pemanfaatan digitalisasi dalam dunia pendidikan dan organisasi guru. 

Dari sistem keanggotaan, manajerial, hingga administrasi konferensi, seluruh proses di Filipina sudah berbasis digital, mulai dari barcode registrasi, absensi, hingga akses kegiatan. 

“Digitalisasi sangat berperan penting dalam semua aspek kehidupan dan pendidikan. Hampir semua negara ASEAN sudah menerapkan hal ini,” jelasnya.

Dari pengalamannya di Filipina, Yatni juga menyoroti soal disiplin yang diterapkan di sekolah-sekolah, baik oleh guru maupun siswa. Menurutnya, budaya disiplin yang kuat menjadi kunci keberhasilan pembelajaran. 

“Di sana tidak ada sampah berserakan. Semua tertib, mulai dari administrasi, waktu masuk dan pulang sekolah, hingga proses belajar-mengajar. Bahkan ada sanksi tegas bagi yang melanggar aturan,” ungkapnya.

Ia berharap pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan di Indonesia, khususnya di Kabupaten Blora. 

“Yang paling penting adalah membangun kedisiplinan sejak dini, baik untuk guru maupun siswa. Disiplin administrasi, disiplin waktu, disiplin berpakaian, semuanya harus dibiasakan agar mutu pendidikan kita semakin baik,” pungkas Yatni. (Mz.Dhe)

Posting Komentar

0 Komentar