Maestro tari Yoyok Bambang Priyambodo saat di Makam Sunan Pojok Blora, Selasa (30/12/2025).
BLORA – Maestro tari Yoyok Bambang Priyambodo menegaskan bahwa Kabupaten Blora menyimpan potensi budaya yang jauh lebih luas dibandingkan kesenian yang selama ini dikenal publik.
Menurut Yoyok, kekayaan budaya Blora tidak hanya terbatas pada barongan dan tayub, tetapi juga tersebar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di setiap kecamatan.
“Setiap wilayah di Blora memiliki punden, sejarah, dan cerita rakyat. Dari sejarah dan cerita itulah sebenarnya bisa diangkat menjadi karya seni, termasuk tari-tarian,” ujar Yoyok, Selasa (30/12/2025).
Ia mencontohkan pengalamannya saat datang ke makam Eyang Sunan Pojok. Dari sisi spiritual dan sejarah, Yoyok mencoba mengeksplorasi kemungkinan munculnya ragam gerak tari yang bersumber dari budaya lokal Blora.
Selain seni pertunjukan, ia juga menilai potensi kuliner tradisional Blora sangat kaya dan belum tergarap maksimal.
Yoyok berharap para seniman muda terus mengembangkan kreativitas tanpa meninggalkan kesenian asli Blora, khususnya barongan.
Menurutnya, kreativitas memang harus tumbuh, namun tetap berangkat dari akar budaya lokal.
“Blora punya kultur sendiri, punya dialek, gending, dan kehidupan masyarakat yang berbeda dengan daerah lain. Itu yang harus dijaga,” tegasnya.
Ia menyoroti perkembangan pertunjukan barongan Blora saat ini yang dinilai mulai bergeser dari pakem. Banyak pertunjukan, kata Yoyok, sudah bercampur dengan unsur budaya luar seperti Bali maupun Reog Ponorogo
Di akhir pernyataannya, Yoyok mengajak seluruh sanggar dan kelompok seni di Blora untuk rukun dan belajar bersama, menggali kembali kejayaan Blora yang pernah menjadi juara tetap Parade Seni Jawa Tengah melalui barongan.
“Pengembangan boleh, tapi jangan meninggalkan pakem. Mari bersama-sama mengembalikan ciri khas seni budaya Blora, baik barongan maupun tayub, agar tetap hidup dan dikenal luas,” pungkasnya. (Mz.Dhe)




0 Komentar