Blora, — Upaya menekan balap liar sekaligus membina pembalap muda terus digencarkan di Kabupaten Blora.
Melalui ajang DWS Road Race, Ikatan Motor Indonesia (IMI) Blora menegaskan komitmennya menjadikan olahraga balap motor sebagai wadah resmi, terukur, dan berjenjang menuju tingkat profesional.
Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kabupaten Blora, Adiria, yang juga anggota DPRD Blora dari Partai Gerindra, menyampaikan bahwa DWS Road Race bukan sekadar event hiburan, tetapi bagian dari strategi pembinaan atlet sekaligus solusi konkret mengurangi balap liar di jalan raya.
Menurutnya, tahun ini DWS Road Race terintegrasi dengan ajang Pra-Porprov dengan total sekitar 30 kelas yang dipertandingkan. Kategori tersebut mencakup kelas lokal, karesidenan, provinsi hingga kelas open tingkat nasional.
“Kita siapkan jenjangnya. Dari lokal, karesidenan Pati, provinsi sampai nasional. Bahkan ada kelas khusus atas permintaan pembalap dari Bojonegoro dan Tuban. Juara-juara nanti kita dorong naik ke tingkat Porprov hingga profesional,” tegas Adiria, Sabtu (14/2/2026).
Ia mengakui, pembinaan pembalap di Blora masih menghadapi kendala minimnya anggaran dan fasilitas latihan. Berbeda dengan daerah lain seperti Boyolali, Semarang, Demak, Klaten hingga Banyumas yang telah memiliki sirkuit permanen dan dukungan anggaran besar, Blora masih mengandalkan sirkuit non-permanen.
“Potensi kita besar. Ada sekitar enam bibit pembalap yang sudah bagus. Tapi jam terbang mereka kurang karena belum memiliki sirkuit latihan tetap,” ujarnya.
IMI Blora pun berharap adanya dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Blora, termasuk kolaborasi dengan Satlantas dan stakeholder terkait, agar ke depan Blora memiliki fasilitas sirkuit yang representatif.
Tingginya animo masyarakat terhadap road race di wilayah Blora, Pati, Grobogan dan Rembang disebut menjadi modal kuat pengembangan olahraga otomotif di daerah.
Terkait pengembangan lokasi, IMI Blora membuka peluang pemanfaatan kawasan Bandara Ngloram serta opsi lahan parkir stadion yang direncanakan di kawasan lapangan golf, karena dinilai memiliki lahan luas dan beraspal yang memadai untuk latihan maupun event.
Adiria menambahkan, meski penyelenggaraan event membutuhkan biaya besar untuk perizinan dan penataan lingkungan, dampak ekonominya signifikan bagi pelaku UMKM dan masyarakat sekitar.
Ia memastikan tingginya antusiasme peserta dan penonton akan dilaporkan ke IMI Pusat serta kementerian terkait sebagai dasar pengajuan dukungan lanjutan, agar Blora mampu melahirkan pembalap profesional dan menjadi salah satu pusat otomotif di Jawa Tengah. (Mz. Dhe)



0 Komentar